Rabu, 24 April 2013

Laporan Pendahuluan Askep Halusinasi


PENDAHULUAN

A.    DEFENISI HALUSINASI
Halusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain, Essentials of Mental Health Nursing, 1987).
B.     KLASIFIKASI HALUSINASI
Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik tertentu, diantaranya :
a.        Halusinasi pendengaran : karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara – suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.
b.      Halusinasi penglihatan : karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.
c.       Halusinasi penghidu : karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang – kadang terhidu bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
d.      Halusinasi peraba : karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
e.       Halusinasi pengecap : karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan.
f.       Halusinasi sinestetik : karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.


C.     PROSES TERJADINYA HALUSINASI
Halusinasi pendengaran merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi pada klien dengan gangguan jiwa (schizoprenia). Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara – suara bising atau mendengung. Tetapi paling sering berupa kata – kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang mempengaruhi tingkah laku klien, sehingga klien menghasilkan respons tertentu seperti : bicara sendiri, bertengkar atau respons lain yang membahayakan. Bisa juga klien bersikap mendengarkan suara halusinasi tersebut dengan mendengarkan penuh perhatian pada orang lain yang tidak bicara atau pada benda mati.
Halusinasi pendengaran merupakan suatu tanda mayor dari gangguan schizoprenia dan satu syarat diagnostik minor untuk metankolia involusi, psikosa mania depresif dan syndroma otak organik.
D.    FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB HALUSINASI
a.       FAKTOR PREDISPOSISI
1.      Faktor perkembangan terlambat
·         Usia bayi, tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman.
·         Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi
·         Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan
2.      Faktor komunikasi dalam keluarga
·         Komunikasi peran ganda
·         Tidak ada komunikasi
·         Tidak ada kehangatan
·         Komunikasi dengan emosi berlebihan
·         Komunikasi tertutup
·         Orang tua yang membandingkan anak – anaknya, orang tua yang otoritas dan komplik orang tua
3.      Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi

4.      Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri negatif dan koping destruktif.
5.      Faktor biologis
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbic.
6.      Faktor genetik
adanya pengaruh herediter (keturunan) berupa anggota keluarga terdahulu yang mengalami schizoprenia dan kembar monozigot.
b.      PERILAKU
Bibir komat kamit, tertawa sendiri, bicara sendiri, kepala mengangguk – angguk, seperti mendengar sesuatu, tiba – tiba menutup telinga, gelisah, bergerak seperti mengambil atau membuang sesuatu, tiba – tiba marah dan menyerang, duduk terpaku, memandang satu arah, menarik diri.
c.       FISIK
1.      ADL
Nutrisi tidak adekuat bila halusinasi memerintahkan untuk tidak makan, tidur terganggu karena ketakutan, kurang kebersihan diri atau tidak mandi, tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan aktivitas fisik yang berlebihan, agitasi gerakan atau kegiatan ganjil.
2.      Kebiasaan
Berhenti dari minuman keras, penggunaan obat – obatan dan zat halusinogen dan tingkah laku merusak diri.
3.      Riwayat kesehatan
Schizofrenia, delirium berhubungan dengan riwayat demam dan penyalahgunaan obat.
4.      Riwayat schizofrenia dalam keluarga
5.      Fungsi sistim tubuh
·         Perubahan berat badan, hipertermia (demam)
·         Neurologikal perubahan mood, disorientasi
·         Ketidak efektifan endokrin oleh peningkatan temperatur
d.      STATUS EMOSI
Afek tidak sesuai, perasaan bersalah atau malu, sikap negatif dan bermusuhan, kecemasan berat atau panik, suka berkelahi.
e.       STATUS INTELEKTUAL
Gangguan persepsi, penglihatan, pendengaran, penciuman dan kecap, isi pikir tidak realistis, tidak logis dan sukar diikuti atau kaku, kurang motivasi, koping regresi dan denial serta sedikit bicara.
f.       STATUS SOSIAL
Putus asa, menurunnya kualitas kehidupan, ketidakmampuan mengatasi stress dan kecemasan.
E.     4. ( EMPAT) TAHAPAN HALUSINASI, KARAKTERISTIK DAN PERILAKU YANG DITAMPILKAN
Tahap Karakteristik Perilaku Klien
Tahap I
·         Memberi rasa nyaman tingkat ansietas sedang secara umum, halusinasi merupakan suatu kesenangan.
·         Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan
·         Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas
·         Fikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontol kesadaran, nonpsikotik.
·         Tersenyum, tertawa sendiri
·         Menggerakkan bibir tanpa suara
·         Pergerakkan mata yang cepat
·         Respon verbal yang lambat
·         Diam dan berkonsentrasi
Tahap II
·         Menyalahkan
·         Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan perasaan antipati
·         Pengalaman sensori menakutkan
·         Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut
·         Mulai merasa kehilangan kontrol
·         Menarik diri dari orang lain non psikotik
·         Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah
·         Perhatian dengan lingkungan berkurang
·         Konsentrasi terhadap pengalaman sensori kerja
·         Kehilangan kemampuan
Tahap III
·         Mengontrol
·         Tingkat kecemasan berat
·         Pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak lagi
·         Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori (halusinasi)
·         Isi halusinasi menjadi atraktif
·         Kesepian bila pengalaman sensori berakhir psikotik
·         Perintah halusinasi ditaati
·         Sulit berhubungan dengan orang lain
·         Perhatian terhadap lingkungan berkurang hanya beberapa detik
·         Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat
Tahap IV
·         Klien sudah dikuasai oleh halusinasi
·         Klien panik. Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah halusinasi, bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik.
·         Perilaku panik
·         Resiko tinggi mencederai
·         Agitasi atau kataton
DAFTAR PUSTAKA



Ahmad. 2008. gangguan persepsi sensori halusinasi.
http://lensaprofesi.blogspot.com/2008/11/gangguan-persepsi-sensori-halusinasi.html.
(Online) diakses tanggal 10 – 06 – 2011.
Jalal.2009. Asuhan Keperawatan gangguan persepsi sensori halusinasi. (online) http://perawat-gaul.blogspot.com/2009/02/asuhan-keperawatan- gangguan-persepsi-sensori-halusinasi.html. diakses tanggal 8 Juni 2011



Tidak ada komentar:

Posting Komentar